Kepustakaan Kimia

Khisba Diniyah

16030234054

KB 2016

  • Digital Object Identifier (DOI)

Digital Object Identifier atau DOI dapat diterjemahkan secara bebas sebagai Pengenal Objek Digital, dan memang merupakan tanda pengenal atau identitas bagi kandungan intelektual dalam dunia digital yang bersifat unik dan tetap (persistent). Sebagai sebuah identitas, DOI membantu pengelolaan sumberdaya digital, terutama dalam kaitannya dengan hak cipta dan hak kekayaan intelektual. Dalam dunia bisnis dan komersial, DOI menjadi sebuah protokol bagi pertukaran informasi dan penjualan produk melalui e-commerce. Dalam konteks perpustakaan digital, DOI juga dipakai sebagai bagian dari metadata untuk pengelolaan sumberdaya digital, misalnya artikel jurnal elektronik. Koordinator yang mengurus pemberian identitas digital ini adalah International DOI Foundation atau IDF (http://www.doi.org/) , yang memiliki kantor registrasi atau pendaftaran nomor DOI di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia.

Sistem DOI dikembangkan dengan memperhatikan beberapa standar dan saat ini sudah pula menjadi bagian dari ISO (ISO TC46/SC9). Komponen sistem DOI adalah:

  1. Aturan tentang pembuatan nomor DOI
  2. Layanan resolusi (resolution service) yang didasarkan pada Handle System
  3. Model data yang tercakup dalam sebuah data dictionary
  4. Mekanisme penerapan, berupa kebijakan dan prosedur pemakain DOI

Sebagaimana dijelaskan di buku panduannya, setiap DOI merupakan sebuah nomor unik (dikenal juga sebagai DOI name) yang hanya berlaku untuk satu entitas. Sistem DOI memberikan nomor ini sekali saja, tetapi untuk terus menjamin keunikannya, badan yang mendaftarkan (Registrant) DOI ini harus memastikan bahwa nomor yang sama tidak dipakai dua kali terhadap dua entitas yang berbeda. Sistem identitas lain, misalnya ISBN (International Standard Book Number) boleh digunakan bersama DOI untuk satu entitas, atau juga dapat dipakai sebagai bagian dari DOI itu sendiri. Cara penomorannya mengikuti sintaks yang terstandar sesuai ANSI/NISO Z39.84-2000. Selain itu, penomoran ini juga memperhatikan aturan tentang URI (Universal Resource Identifier) atau penanda universal untuk sumberdaya digital.

Rangkaian angka yang terdapat di DOI sama sekali tidak bermakna apa-apa selain sebagai penanda, sehingga dikenal juga sebagai rentetan buram (opaque string) atau nomor tak bermakna (dumb number). Satu-satunya cara untuk mengetahui segala sesuatu tentang entitas yang dirujuk oleh sebuah nomor DOI adalah dengan memeriksa metadata yang ikut didaftarkan ketika sebuah badan meminta nomor DOI tersebut. Nomor DOI itu sendiri tidak akan pernah berubah, walaupun mungkin kepemilikan entitasnya sudah bertukar tangan. Itu sebabnya, DOI disebut juga “persistent identifier” atau penanda abadi.

Ada dua komponen yang membentuk DOI, yang disebut sebagai prefix dan suffix yang dipisahkan oleh garis miring. Contoh:

10.1000/123456

Di contoh di atas “10.1000” adalah prefix dan “123456” adalah suffix. Secara teknis, tidak ada batasan panjang angka yang dipakai, sehingga secara teoritis jumlah DOI yang akan tercipta adalah tak terbatas. Contoh-contoh berikut juga sudah mengikuti aturan DOI: 10.1234/NP5678 10.5678/ISBN-0-7645-4889-4 10.2224/2004-10-ISO-DOI Semua DOI dimulai dengan angka 10 supaya berbeda dari nomor lain yang termasuk dalam Handle System.

Penerapan DOI dilakukan dalam sebuah proses yang disebut DOI name resolution. Kata “resolusi” disini dimaksudkan sebagai proses pemasukan sebuah penanda (identifier) ke sebuah sistem sebagai sebuah permintaan (request) untuk mendapat jawaban atau luaran berupa informasi tentang entitas tertentu, misalnya tentang lokasi entitas itu (dalam bentuk URL). Sebagaimana dijelaskan di atas, DOI selalu bersifat unik dan kekal, menunjuk atau mengidentifikasi sebuah entitas digital tertentu. Sedangkan URL mengidentifikasi lokasi atau alamat entitas tersebut. Analoginya adalah ISBN sebagai nomor yang mengidentifikasi sebuah buku, dan nomor rak yang mengidentifikasi di lokasi mana buku tersebut dapat ditemukan. Proses resolusi DOI, dengan demikian, adalah proses mengaitkan atau menghubungkan antara identitas sebuah entitas dan alamat entitas itu.

  • Lembaga DOI

CrossRef adalah lembaga pendaftaran Digital Object Identifier (DOI) resmi yang dikeluarkan pada tahun 2000 sebagai kerja sama antar penerbit untuk membuat sebuah linking referensi lintas penerbit pada jurnal ”online”. CrossRef merupakan implementasi paling kuat dari model DOI. Sekarang, CrossRef telah memiliki jutaan interlink dengan beragam item termasuk jurnal, buku, laporan, hingga data set. Ini adalah sistem yang dipakai secara universal di Eropa dalam industri penerbitan jurnal ilmiah. Tujuan dari CrossRef adalah untuk memfasilitasi kreasi jaringan dari referensi pada jurnal online ke artikel halaman.

Dua tahun yang lalu, keanggotaan CrossRef  mencapai 153 penerbit dan databasenya berkembang sampai 4,9 juta artikel yang berasal dari hampir 6.406 jurnal. Database CrossRef memperlihatkan perkembangan sampai setengah juta artikel per tahunnya. Sejak CrossRef ditunjuk sebagai jaringan untuk artikel jurnal, jaringan ini semakin meluas pada tahun 2002 ketika CrossRef memulai menerima metadata dalam bentuk atau tipe lain.

  • Perbedaan ISSN dan ISBN
  1. ISSN

International Standard Serial Number – ISSN (Nomor Seri Standar Internasional) adalah sebuah nomor unik yang digunakan untuk identifikasi publikasi berkala media cetak ataupun elektronik. Nomor identifikasi ini sejenis dengan ISBN yang diperuntukkan bagi buku.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI adalah penerbit ISSN National Center untuk Indonesia, serta memiliki tugas dan wewenang untuk melakukan pemantauan atas seluruh publikasi terbitan berkala yang diterbitkan di Indonesia. Sebagai bagian dari tanggung-jawab tersebut, PDII menerbitkan ISSN yang merupakan tanda pengenal unik setiap terbitan berkala yang berlaku global.

ISSN diberikan oleh ISDS (International Serial Data System) yang berkedudukan di Paris, Perancis. ISSN diadopsi sebagai implementasi ISO-3297 pada tahun 1975 oleh Subkomite no. 9 dari Komite Teknik no. 46 dari ISO (TC 46/SC 9). ISDS mendelegasikan pemberian ISSN baik secara regional maupun nasional. Untuk regional Asia dipusatkan di Thai National Library, Bangkok, Thailand. PDII LIPI merupakan satu-satunya ISSN National Centre untuk Indonesia.

Terhitung sejak 1 April 2008, seluruh proses pendaftaran sampai penerbitan ISSN di Indonesia sudah dilakukan secara elektronik penuh melalui situs ISSN Online yang dikelola PDII LIPI. Dengan sistem ini pengelolaan ISSN lebih mudah, murah dan transparan. Lebih dari itu sistem ini memberi fasilitas tambahan berupa barcode generator online yang bisa dipakai untuk membuat kodebar ISSN tanpa perlu memiliki perangkat lunak yang berharga cukup mahal. Fasilitas ini merupakan yang pertama di dunia yang diintegrasikan dengan pengelolaan ISSN.

Sama dengan ISBN, kodebar untuk ISSN memakai EAN-13 yang terdiri dari 13 dijit. Tetapi nomor ISSN terdiri dari kombinasi 8 angka dan huruf X. Tetapi nomor unik sebagai identifikasi ISSN hanyalah 7 angka pertama, sedangkan angka / huruf X terakhir adalah karakter cek ISSN.

Sedangkan kodebar ISSN memakai standar EAN-13 yang terdiri dari kombinasi 13 angka dan huruf X, ditandai dengan 3 angka pertama 977 diikuti oleh 7 angka pertama nomor ISSN, 2 angka tambahan untuk kode penerbitan dan 1 karakter cek EAN-13.

Cara memahami nomor ISSN serta kodebarnya bisa dibaca di halaman manual di ISSN Online

Contoh :

  1. Judul Jurnal :  Acta medical Indonesia

Nomor  ISSN : 01259326

  1. Judul Jurnal : ASEAN Journal of Chemical Engineering

Nomor ISSN  : 16554418

  1. Judul Jurnal : Critical Care and Shock

Nomor ISSN  : 14107767

Manfaat dari nomor ISSN ini adalah untuk memudahkan pelaksanaan administrasi seperti pemesanan sebuah majalah yang dapat dilakukan dengan menyebutkan nomor ISSN-nya. Nomor ISSN ini akan menghilangkan keragu-raguan karena ternyata banyak juga majalah yang sama atau hampir sama judul / namanya. Setiap majalah memiliki ISSN-nya sendiri dan tidak akan dipakai oleh majalah lain. Bila majalah berganti judul, maka majalah itu juga akan memperoleh nomor ISSN baru. Ini diberikan kepada semua jenis majalah, termasuk penerbitan berseri.

  1. ISBN

International Standard Book Number atau ISBN adalah pengindentikasi unik untuk buku-buku yang digunakan secara komersial. Sistem ISBN diciptakan di Britania Raya pada tahun 1966 oleh seorang pedagang buku dan alat-alat tulis W H Smith dan mulanya disebut Standard Book Numbering atau SBN (digunakan hingga tahun 1974). Sistem ini diadopsi sebagai standar internasional ISO 2108 tahun 1970. Pengidentikasi serupa, International Standard Serial Number (ISSN), digunakan untuk publikasi periodik seperti majalah.

ISBN diperuntukkan bagi penerbitan buku. Nomor ISBN tidak bisa dipergunakan secara sembarangan, diatur oleh sebuah lembaga internasional yang berkedudukan di Berlin, Jerman. Untuk memperolehnya bisa menghubungi perwakilan lembaga ISBN di tiap negara yang telah ditunjuk oleh lembaga internasional ISBN. Perwakilan lembaga internasional ISBN di Indonesia adalah Perpustakaan Nasional yang beralamat di Jalan Salemba, Jakarta. Nomor ISBN dapat diperoleh dengan menghubungi Perpustakaan Nasional dengan cara datang langsung atau melalui Faksimil dengan ketentuan :

  1. Mengirimkan atau membawa surat permohonan yang berisi judul buku beserta synopsis buku yang akan diterbitkan
  2. Membayar biaya administrasi Rp25.000/judul buku

Proses untuk memperoleh nomor ISBN tidaklah rumit, terlebih bila datang sendiri ke Perpustakaan Nasional hanya memerlukan waktu beberapa jam.

ISBN terdiri dari 10 digit nomor dengan urutan penulisan adalah kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi. Namun, mulai Januari 2007 penulisan ISBN mengalami perubahan mengikuti pola EAN, yaitu 13 digit nomor. Perbedaannya hanya terletak pada tiga digit nomor pertama ditambah 978. Jadi, penulisan ISBN 13 digit adalah 978-kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi.

Awalan ISBN untuk negara Indonesia adalah 979 dan 602. Contoh pola ISBN untuk buku-buku di Indonesia:

CONTOH

  1. Judul Buku      : Media Pembelajaran

Nomor ISBN     : 978-979-769-513-2

  1. Judul Buku     : Bukan untuk Dibaca

Nomor ISBN     : 978-979-8340-17-8

  1. Judul Buku      : Psikologi Belajar

Nomor ISBN     : 978-979-518-852-0

  1. Judul Buku      : Belajar dan Pembelajaran

Nomor ISBN     : 978-979-692-046-4

  ISSN ISBN
Kegunaan Untuk identifikasi publikasi berkala media cetak atau elektronik Untuk mengidentifikasi buku yang digunakan secara komersial
Penerbit (National Center di Indonesia) Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI Perpustakaan Nasional Jalan Salemba,Jakarta
Diadopsi sebagai Implementasi ISO-3297 Tahun 1975 Standar Internasional ISO 2018 Tahun 1970
Pengelolaan Lebih mudah, murah dan transparan Tidak rumit dan membayar biaya administrasi Rp25.000/ judul buku
Fasilitas tambahan Barcode Generator Online Belum ada
Kodebar Terdiri dari 13 angka dan huruf X (3 angka pertama 977 dan 7 angka pertama nomor ISSN, 2 angka tambahan kode penerbitan dan 1 karakter cek EAN-13) Terdiri dari 13 digit (nomor 3 digit pertama 978- kode negara- kode penerbit- kode buku- no identifikasi)

 

  • Indeksasi Jurnal
  1. Pengertian indeks

            Indeks merupakan alat yang digunakan dalam dunia Internet, yang bertujuan untuk mengatur dan memudahkan seseorang atau pengguna internt untuk menemukan konten yang mereka cari. Pada indeks jurnal, beberapa indeks menyediakan daftar judul jurnal, beserta link dan kategorisasi.

  1. Pengindeks jurnal

            Pengindeks jurnal merupakan sebuah sarana atau alat untuk mengindeks setiap jurnal yang di “publish” oleh peneliti atau ilmuan. Beberapa alat pengindeks jurnal ini memiliki persyaratan atau kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah jurnal atau karya ilmiah agar terindeks oleh alat pengindeks tersebut. Contoh pengindeks jurnal yang populer adalah DOAJ (The Directory of Open Access Journal) dan SCOPUS.

  1. Tipe tipe pengindeks jurnal

Pengindeksan jurnal dibagi menjadi beberapa tipe antara lain :

  1. Search Engines

            Search Engine adalah alat yang digunakan untuk membantu orang menemukan informasi di internet. Mesin pencari ini mengumpulkan kata kunci dari beberapa halaman web yang ada dan mencocokannya dengan kata kunci yang dimasukkan oleh pengguna mesin pencari tersebut.Pengindeksan jurnal melalui mesin pencari ini memiliki manfaat seperti memperluas pembaca atas jurnal yang belum memenuhi kriteria pada pengindeksan jurnal yang terkenal karena pengindeks jurnal terkenal memiliki kriteria yang begitu ketat, sehingga penulis jurnal pemula kesulitan untuk menerbitkan jurnal mereka.

  1. General Indexes

            General Indexes biasanya membatasi diri untuk konten jurnal. Hanya jurnal yang terdaftar yang dikenal, seperti Comercial Ulrich atau Free New Jour. General Indexes Indeks umum juga dapat menjadi tempat yang baik untuk mencari jurnal yang ada dengan pencocokan.

            General Indexes lain yang penting adalah direktori Open Access Jurnal (DOAJ). The DOAJ hanya indeks jurnal yang dapat diakses secara bebas, dan mengharuskan mereka untuk mematuhi standar jaminan kualitas tertentu.

  1. Quality Assured Indexes

            Quality Assured Indexes adalah indeks yang memiliki kriteria kualitas tertentu dan semua jurnal harus memenuhi kriteria tersebut jika jurnal mereka ingin terindeks. Misalnya, untuk terindeks pada Medline jurnal harus menjamin bahwa memenuhi kriteria standar Medline yang meliputi kualitas dari jurnal yang diterbitkan.

            Beberapa Jenis indeks ini dapat difokuskan pada disiplin ilmu tertentu, seperti PsycINFO untuk psikologi, sementara yang lain multidisiplin atau berfokus pada beberapa disiplin ilmu. Beberapa menggabungkan informasi dari ratusan jurnal, dan lain-lain hanya dapat mencakup metadata dari beberapa jurnal.

  1. Citation Indexes

            Citation Indexes tidak hanya mencakup metadata dari jurnal (judul artikel, abstrak, penulis, dll), tetapi juga melacak kutipan dari artikel. Menggunakan indeks kutipan, Anda dapat melihat berapa kali artikel tertentu telah dikutip (atau direferensikan) oleh artikel lain dalam indeks.

            Ada dua kutipan indeks utama: Thomson Reuters Web of Science (WOS) dan Scopus (dari Elsevier). Keduanya adalah produk berlangganan, sehingga meskipun ia bebas untuk diindeks oleh mereka, untuk menggunakan informasi mereka pengguna harus membayar langganan.

  1. Regional Indexes

            Sesuai dengan namanya, indeks ini berfokus pada jurnal dari daerah tertentu di dunia. Contohnya termasuk Latindex untuk Amerika Latin, Karibia, Spanyol, dan Portugal; Redalyc untuk Amerika Latin, Karibia, Spanyol, dan Portugal; Scielo untuk Amerika Latin, Karibia, Spanyol, Portugal, dan Afrika Selatan; dan Afrika Jurnal Online untuk Afrika.  Regional Indexes lainnya dapat ditemukan di situs web INASP JOLs. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia juga menyediakan indeks regional jurnal kesehatan dari kantor-kantor regionalnya, misalnya Medicus Indeks untuk Mediterania Timur Daerah (IMEMR).

            Regional Indexes menyediakan Informasi penting pada penelitian dan publikasi dari negara atau wilayah Yang layak dan berpartisipasi di Regional Indexes. Mereka juga berguna dalam meningkatkan visibilitas dan membangun komunitas ilmiah lokal atau regional.

  • Scientific Journal Rankings (SJR)

Peringkat Jurnal SCImago (indikator SJR) adalah ukuran pengaruh ilmiah jurnal ilmiah yang menjelaskan baik jumlah kutipan yang diterima oleh jurnal dan pentingnya atau prestise jurnal dari mana kutipan tersebut berasal. Indikator SJR adalah varian dari ukuran sentralitas vektor eigen yang digunakan dalam teori jaringan. Langkah-langkah tersebut menetapkan pentingnya sebuah simpul dalam jaringan berdasarkan prinsip bahwa koneksi ke node dengan skor tinggi berkontribusi lebih besar terhadap nilai simpul. Indikator SJR, yang terinspirasi oleh algoritma PageRank , telah dikembangkan untuk digunakan dalam jaringan kutipan jurnal yang sangat besar dan heterogen. Ini adalah indikator independen ukuran dan nilainya mengatur jurnal berdasarkan “prestise rata-rata per artikel” mereka dan dapat digunakan untuk perbandingan jurnal dalam proses evaluasi sains.

Indikator SJR adalah metrik jurnal gratis yang menggunakan algoritma yang mirip dengan PageRank dan memberikan alternatif impact factor (IF).  Kutipan rata-rata per dokumen dalam periode 2 tahun, disingkat “Cites per Doc. (2y)”, adalah indeks lain yang mengukur dampak ilmiah dari artikel rata-rata yang dipublikasikan di jurnal tersebut. Ini dihitung dengan menggunakan rumus yang sama dengan jurnal IF.

  • Perhitungan SJR

Perhitungan indikator SJR dilakukan dengan menggunakan algoritma iteratif yang mendistribusikan nilai prestise antar jurnal sampai solusi steady state tercapai. Algoritma SJR dimulai dengan menetapkan jumlah prestise yang sama ke setiap jurnal, kemudian menggunakan prosedur iteratif, prestise ini didistribusikan kembali dalam sebuah proses di mana jurnal mentransfer prestise yang mereka capai satu sama lain melalui kutipan. Prosesnya berakhir ketika perbedaan antara nilai prestise jurnal dalam iterasi berurutan tidak mencapai nilai ambang minimum. Prosesnya dikembangkan dalam dua tahap, (a) perhitungan Prestige SJR ( PSJR ) untuk setiap jurnal: ukuran yang bergantung pada ukuran yang mencerminkan keseluruhan prestise jurnal, dan (b) normalisasi ukuran ini untuk mencapai ukuran yang independen. ukuran prestise, indikator SJR .

  • Impact Factor

Impact factor adalah salah satu cara untuk mengevaluasi kualitas jurnal yang dilakukan oleh ISI Journal Citation Reports (JCR). Indikator ini telah dipandang menjadi indikator utama untuk mengukur secara kuantitatif kualitas sebuah jurnal, paper risetnya,  peneliti yang menulis paper tersebut dan bahkan institusi dimana mereka bekerja. Impact factor jurnal adalah ukuran seberapa sering rata-rata artikel pada sebuah jurnal telah disitasi pada tahun tertentu. Impact factor membantu kita mengevaluasi pentingnya jurnal relatif, khususnya ketika membandingkan dengan jurnal lain dalam bidang yang sama. Impact factor dihitung dengan membagi jumlah sitasi pada tahun sekarang pada artikel yang dipublikasi dalam dua tahun sebelumnya dengan jumlah artikel total yang dipublikasi dalam dua tahun sebelumnya.

Impact factor merupakan salah satu dari tiga ukuran standar yang diciptakan oleh The Institute of Scientific Information (ISI) yang digunakan untuk mengukur cara sebuah jurnal menerima sitasi pada artikelnya dengan berlalunya waktu. Akumulasi sitasi cenderung mengikuti kurva seperti Gambar 1. Sitasi pada artikel yang dipublikasi dalam suatu tahun meningkat secara tajam sampai sebuah puncak antara dua dan enam tahun setelah publikasi. Dari puncak ini, sitasi turun dengan waktu. Kurva sitasi suatu jurnal dapat digambarkan dengan ukuran relatif dari kurva tersebut (dalam luas dibawah garis), memanjang sampai dimana puncak kurva mendekati titik pusat, dan laju penurunan kurva. Karakteristik ini membentuk basis indikator ISI impact factorimmediacy index, dan cited-half life.

  • Perhitungan Impact Factor

Impact factor adalah sebuah ukuran dari ukuran relatif kurva sitasi pada tahun 2 dan 3. Ini dihitung dengan membagi jumlah sitasi sekarang yang diterima sebuah jurnal pada artikel yang dipublikasi dalam dua tahun sebelumnya dengan jumlah artikel yang dipublikasi pada tahun yang sama. Jadi, sebagai contoh, impact factor 2010 adalah sitasi dalam 2010 pada artikel yang dipublikasi pada 2008 dan 2009 dibagi dengan jumlah artikel yang dipublikasi pada 2008 dan 2009. Angka yang dihasilkan tersebut dapat dipandang sebagai jumlah sitasi rata-rata yang diterima artikel per tahun dalam dua tahun setelah tahun publikasi.

Menggunakan jurnal X sebagai contoh:

Sitasi pada 2010 terhadap artikel yang dipublikasi pada:

  • 2009        = 258
  • 2008        = 199
  • Jumlah = 457

Jumlah artikel yang dipublikasi pada:

  • 2009         = 116
  • 2008         =    71
  • Jumlah = 187

Perhitungan: Impact Factor = 457/187 = 2.444

  • CiteScore

CiteScore adalah produk baru dari Elsevier, dengan menggunakan data kutipan dari database Scopus untuk menentukan peringkat jurnal.Seperti metrik peringkat jurnal lainnya, untuk membandingkan jurnal lintas disiplin memerlukan peringkat “normal”, yang CiteScore berikan sebagai peringkat persentil dalam kategori subjek jurnal. Selain nomor CiteScore dan peringkat persentil, CiteScore juga menyertakan peringkat SJR (Scimago Journal Rank) dan SNIP (Source Normalized Impact per Paper).

  • Perhitungan CiteScoreo

Perhitungan CiteScore hampir mirip dengan perhitungan Impact Factor. Yang membedakan yaitu Impact Factor memperhitungkan jumlah sitasi selama 2 tahun sedangkan citescore memperhitungkan jumlah sitasi selama 3 tahun dengan alasan best-fit untuk semua subject area.

  • Source Normalized Impact Per Paper (SNIP)

Dibuat oleh Profesor Henk Moed di CTWS, Universitas Leiden. SNIP digunakan untuk mengukur dampak sitasi dengan pembobotan sitasi berdasarkan jumlah total sitasi dalam suatu bidang (subjek). Dampak setiap publikasi diukur berdasarkan rasio kutipan dalam setahun (Y) untuk makalah ilmiah yang diterbitkan dalam tiga tahun sebelumnya dibagi dengan jumlah makalah ilmiah yang diterbitkan pada tahun yang sama.

  • H Indeks
  1. Pengertian H Indeks

H-Index atau Indeks-h merupakan sebuah tolok ukur bagi seorang ilmuwan baik itu dosen ataupun peneliti dalam mengembangkan hasil karya keilmuwannya. Karya keilmuwan seorang dosen dan peneliti antara lain berupa hasil penelitian yang dipublikasikan, hak patent atau HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dan artikel-artikel yang diseminarkan dalam bentuk jurnal ilmiah, baik Seminar Nasional maupun Internasional.

H-index pertama kali diperkenalkan oleh seorang fisikawan dari Universitas di California, San Diego, bernama Jorge E Hirsch pada tahun 1985 yang lalu ini dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk menilai kinerja seorang ilmuwan pada saat ini. Namun perlu diketahui bahwa h-index ini masih terdapat kekurangan dalam validitasnya, seperti rentan terhadap manipulasi sitasi pribadi (self-citation).

H-index yang sering juga dikenal dengan Hirsch Index atau Hirsch Number ini dapat diperoleh di media pengindeks publikasi seperti: Portal Garuda, Google Scholar, DOAJ (Directory of Open Access Journals), EBSCO, CrossRef, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), ISJD, ISJD, SINTA, Scopus, dsb.

  1. Manfaat H Indeks

Bagi seorang dosen atau peneliti, h-index merupakan suatu hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan h-index sangat mempengaruhi dana sponsor penelitian yang akan diperoleh untuk melakukan penelitian berikutnya. Sebagai misalnya pihak Menristekdikti sudah memberlakukan bagi dosen dan peneliti dapat diberi hak sebagai ketua di dua skim penelitian apabila sudah mendapatkan h-index Google Scholar minimal 2. Sedangkan bagi dosen dan peneliti yang belum mendapatkan h-index Google Scholar dengan skor 2 maka hanya diberikan hak untuk menjadi ketua di satu skim penelitian saja.

  • Q Indeks

Scopus dalam menilai jurnal membuat klusterisasi kualitas jurnal dengan istilah Quartile, dengan 4 Quartile, yaitu Q1, Q2, Q3 dan Q4. Dimana Q1 adalah kluster paling tinggi atau paling utama dari sisi kulitas jurnal dikuti Q2, Q3 dan Q4 dibawahnya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Albertus’s Blog. (2017, 18 Januari). INDEKSASI JURNAL. Diperoleh 5 Oktober 2017, dari  http://albertus96.blogspot.co.id/2017/01/indeksasi-jurnal.html

Diponegoro Library University. (2012, 13 Juni). Digital Object Identifier. Diperoleh 4 Oktober 2017, dari http://digilib.undip.ac.id/v2/2012/06/13/digital-object-identifier/

Electrochemistry & Corrosion Lab.,Dept.Of Chemical Engineering. (2014, 14 Juni). Impact factor jurnal ilmiah. Diperoleh 4 Oktober 2017, dari  https://elkimkor.com/2014/06/14/impact-factor-jurnal-ilmiah/

 Info Pekan Ini. (2015). Pengertian ISSN. Diperoleh 4 Oktober 2017, dari http://infopekanini.blogspot.co.id/2014/04/pengertian-issn.html

Muhammad, Rahmatullah. (2014, 27 Mei). ISBN DAN ISSN. Diperoleh 4 Oktober 2017, dari http://media-rahmatullah.blogspot.co.id/2014/05/isbn-dan-issn_27.html

Muh-amin.com. (2017, 3 Maret). Apakah H-Index itu dan Bagaimana Cara Menghitungnya?. Diperoleh 5 Oktober 2017, dari http://muh-amin.com/apakah-h-index-itu-dan-bagaimana-cara-menghitungnya/

Nugroho, Heru. (2016, 28 Juni). Journal Metrics. Diperoleh 5 Oktober 2017, dari http://herunugroho.staff.telkomuniversity.ac.id/journal-metrics/

Wijaya, Dedy Rahman. (2016, 26 Desember). Metrik baru dari Scopus untuk mengukur impact jurnal : CiteScore. Diperoleh dari 6 Oktober 2017, dari http://dedyrw.staff.telkomuniversity.ac.id/metrik-baru-dari-scopus-untuk-mengukur-impact-jurnal-citescore/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s